Kelanawisata.id, Bantul - Matahari terbit dari balik pegunungan sewu di ufuk timur. Mewarnai birunya pantai selatan dengan cahaya arunika, diiringi suara deburan ombak dan lambaian burung laut. Hembusan angin bertiup menyambut pagi dengan penuh semangat untuk aksi konservasi dalam mewujudkan kesejahteraan alam.
Hari demi hari dilakukan dengan ikhlas untuk sebuah pengabdian. Kelompok konservasi penyu Mino Raharjo di Pantai Goa Cemara membawa telur penyu hasil patroli. Patroli umumnya dilakukan malam hari dengan mengidentifikasi jejak langkah penyu diatas pasir. Mereka mengeduk lubang untuk mengambil telur penyu dan membawanya pada Konservatorium Penyu Goa Cemara.
KELOMPOK KONSERVASI PENYU MINORAHARJO
Berdiri sejak 2010, memiliki tujuan untuk menjaga dan melestarikan populasi penyu. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, seperti nelayan, petani, dan warga sekitar. “Mino Raharjo beranggotakan 15 orang, basisnya adalah petani, nelayan, pedagang, dan pelaku wisata, .. dulu ada yang bekas pemburu penyu, ada juga yang penambang pasir” ujar Fajar Subekti. Beberapa diantara mereka pernah menangkap penyu yang mendarat maupun mengambil telur penyu di pesisir Pantai Selatan.
Dikutip dari laman resmi, KKP Mino Raharjo dibentuk dengan Visi terwujudnya masyarakat sejahtera dan sadar pelestarian, sehingga keberlangsungan hidup dapat terjaga selaras dengan alam di pesisir selatan. Misi yang dibawa ada dua poin, yang pertama yaitu Mengajak seluruh lapisan masyarakat peduli konservasi, tanpa batas usia maupun profesi. Misi yang kedua, yaitu Menyampaikan informasi dan edukasi agar setiap orang mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dalam setiap aspek kehidupannya.
Pada awalnya, mereka melakukan penetasan telur penyu secara sederhana. Sebanyak 300 telur berhasil ditetaskan saat periode awal kepengurusan. Seiring perjalanan mereka, Dinas Kelautan dan Perikanan serta BKSDA Provinsi DIY turut serta dalam mendampingi KKP Minoraharjo. Pendampingan dan pembinaan tersebut turut membantu meningkatkan hasil penetasan telur.
Menurut data pada hasil tersebut, hasil jumlah telur dan telur menetas mengalami peningkatan pada tahun-tahun berikutnya. Hal tersebut mengindikasikan keberhasilan KKP Minoraharjo dalam melakukan konservasi penyu di pesisir pantai selatan.
Waktu berdetak detik demi detik, KKP Minoraharjo mendapatkan perhatian publik. Kunjungan demi kunjungan telah membuka peluang kolaborasi baru. Dinas Pariwisata telah melirik potensi pariwisata berkelanjutan dari kegiatan pelepasan tukik yang dihadirkan oleh KKP Minoraharjo.
Pada tahun 2020, mereka mendapatkan legitimasi dari Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi DIY melalui Keputusan Kepala Dinas Nomor 188/03745 tentang Penetapan Kelompok Konservasi Penyu Mino Raharjo Pantai Goa Cemara, Pedukuhan Patihan Desa Gadingsari Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul. Selain itu, KKP Minoraharjo juga mendapatkan legitimasi melalui Perdes Gadingsari No. 6 tahun 2020 tentang Pembentukan Masyarakat Penggerak Konservasi Penyu Pantai Goa Cemara.
Perkembangan tersebut menambah kuat posisi KKP Minoraharjo. Bentuk kolaborasi yang lain yaitu terwujudnya Desa Wisata Patihan (Dewa Patih) yaitu kerja sama antara pengelola pantai, konservator penyu, dan warga sekitar. KKP Minoraharjo juga mendapatkan Serat Palilah dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat terkait area untuk rumah konservasi Penyu di Pantai Goa Cemara.
Selain sektor pemerintahan, sektor private Bank Central Asia juga turut membantu KKP Minoraharjo dalam upaya konservasi penyu. Melalui program Bakti BCA, bantuan yang diberikan berupa Pembangunan Rumah Edukasi dan Penguatan Fasilitas Konservasi. Peralatan penetasan penyu dan penghangat tukik diberikan untuk meningkatkan hatch rate atau persentase penetasan telur.
PENETASAN PENYU
Rumah Edukasi menjadi sentra untuk kegiatan Konservasi Penyu di Pantai Goa Cemara. Pembangunan yang dilakukan dalam program Bakti BCA yaitu gubug konservatorium indoor, gubug konservatorium outdoor, dan pendopo untuk pertemuan.
Penetasan telur berada pada dua tempat berbeda. Pada area penetasan semi alami terletak di depan gubug konservatorium dengan wujud hamparan lahan berpasir. Sedangkan penetasan telur terkontrol berada di dalam gubug konservatorium yang berwujud boks. Peralatan penetasan penyu pada intan box merupakan alat yang digunakan untuk menetaskan telur penyu tanpa pasir dengan suhu dan kelembaban yang dapat diatur. Fajar Subekti membeberkan “Keberhasilan tetas dari penggunaan inkubator untuk penetasan telur penyu lebih dari 85%.” Selain itu, terdapat kotak terapi penyerapan yolk (kuning telur) untuk tukik yang belum sepenuhnya menetas dengan sempurna.
Selanjutnya pada gubug disamping, terdapat bak kolam penyimpanan tukik yang telah menetas dengan sempurna. Tukik-tukik tersebut ditampung untuk menunggu proses pertumbuhan sebelum layak untuk dilakukan pelepasan. Dalam gubug tersebut terdapat papan penjelasan dari Bakti BCA mengenai perbedaan penyu, kura-kura, dan bulus. Area konservasi ini dapat menjadi tempat edukasi bagi pengunjung.
WISATA BERBASIS EDUKASI LINGKUNGAN
Berbicara mengenai wisata, kepuasan rasa akan rekreasi menjadi prioritas utama. Namun, wisata berbasis edukasi lingkungan, bukan hanya menawarkan perasaan rekreatif saja. Kawan Kelana dapat juga memberikan dampak baik untuk kelestarian alam dan lingkungan.
Pengalaman melepas tukik di Pantai Goa Cemara dapat menjadi sesuatu hal yang baru. Wisata ini dapat dilakukan untuk memberikan edukasi kepada anak-anak sebagai bentuk pembelajaran. Peserta akan diberikan tukik oleh pengelola KKP Minoraharjo yang kemudian dilepaskan ke laut. Tata cara pelepasan tukik yaitu dihadapkan ke arah berkebalikan dengan laut. Tukik akan memutar dengan sendirinya dan merangka menuju laut. Hal tersebut merupakan bagian dari edukasi kepada wisatawan bahwa pelepasan tukik tidak harus menghadap ke laut.
Selain itu, edukasi yang ditawarkan terkait dengan pelaksanaan pelepasan tukik dapat menjadi bekal pengetahuan mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Penyu adalah hewan laut yang masuk daftar IUCN Red List of Threatened Species atau Daftar Merah Spesies yang Terancam Menurut IUCN. Edukasi yang dikonsep dalam bentuk pariwisata dapat menjadi terobosan untuk menyadarkan publik dan mengkampanyekan aksi dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
POTENSI MASALAH YANG MENGANCAM PENYU
Tukik merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh pada keseimbangan lingkungan masa depan. Penyu muda itu mengarungi samudra pertama kali dari bibir pantai. Kehidupan mereka kini semakin terancam dengan kondisi lingkungan yang semakin tidak karuan.
Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup per Oktober 2025, jumlah sampah nasional 2019-2025 terkumpul 247.260.115 ton sampah. Sampah yang ditimbulkan di Provinsi DIY 2019-2024 berjumlah total 3.678.408 ton. Hal tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan yang dapat mengancam keberlangsungan hidup penyu.
Plastik adalah masalah besar bagi penyu. Wujud plastik yang melayang di perairan laut dapat disangka ubur-ubur oleh penyu. “Ketika ada ombak yang naik ada yang membawa sampah, kena ombak dan kembali lagi ke Laut, ini menjadi ancaman bagi kehidupan penyu, kenapa? Kita lihat penampakannya seperti ubur-ubur, sedangkan pakan alami si penyu lekang itu ubur-ubur” ujar Dr. Agung (Akademisi Biologi UAD). Ubur-ubur merupakan salah satu makanan yang sering dimakan oleh penyu. Sepanjang 2024-2025, telah ditemukan 21 ekor penyu mati. Sebagian dari mereka ditemukan mati karena memakan sampah plastik.
Ironi tersebut perlu menjadi perhatian kita untuk terus sadar dalam memperhatikan aspek lingkungan. Menjaga lingkungan dapat dilakukan oleh siapa saja. Kawan Kelana dapat menjaga lingkungan dengan mengurangi penggunaan plastik dan meminimalisasi timbulan sampah. Dengan meminimalisasi timbulan sampah, kita turut serta dalam melakukan pariwisata berkualitas.
PARIWISATA BERKUALITAS
Pariwisata Berkualitas merupakan bagian dari konsep pelaksanaan pariwisata yang memberikan pengalaman unik bagi wisatawan. Selain memberikan pengalaman unik, wisatawan juga berkontribusi dalam memberikan dampak baik. Wisata Konservasi Tukik di Pantai Goa Cemara memberikan pengalaman bagi wisatawan dalam memahami siklus hidup penyu dan berdampak baik bagi lingkungan.
Pariwisata Berkualitas diwujudkan dalam program prioritas Kementerian Pariwisata salah satunya melalui Pariwisata Naik Kelas dan Gerakan Wisata Bersih. Pariwisata Naik Kelas merupakan tujuan untuk memberikan kualitas dalam pelaksanaan pariwisata dan memfokuskan pengalaman unik sebagai bentuk rekreatif bagi wisatawan. Pariwisata Bahari (Marine) salah satu dari fokus untuk pariwisata naik kelas selain Gastro-Tourism dan Wellness-Tourism.